Jurnalisme

Seni Generatif Antara Dua Generasi

Laras Hening
Kritikus budaya, mengulas bagaimana mesin membaca — dan menulis ulang — kita.
12 Januari 2026
9 menit baca
Seni Generatif Antara Dua Generasi
Ilustrasi: Redaksi BandungBergerak

Seniman muda dan seniman senior duduk di satu meja. Percakapannya bukan tentang alat, melainkan tentang kepengarangan. Sebuah reportase membutuhkan tiga hal yang selalu sama — waktu, keingintahuan, dan kesediaan untuk salah. Yang berubah, di ruang redaksi hari ini, adalah alat.

Di sebuah newsroom kecil di kawasan Braga, empat editor mencoba menuliskan ulang panduan gaya mereka. Bukan tentang koma atau kapitalisasi, tetapi tentang kapan sebuah model bahasa boleh menyentuh naskah, dan siapa yang membaca terakhir kali sebelum tayang. Diskusi itu berlangsung tiga jam. Tidak selesai.

Alat yang tidak netral

Setiap alat membawa asumsinya sendiri. Pena membawa satu kecepatan, mesin ketik membawa yang lain. Model bahasa membawa asumsi tentang apa yang lazim — dan yang lazim, dalam data pelatihan, jarang berasal dari sini. Ini bukan alasan untuk menolaknya. Ini alasan untuk mendekatinya dengan mata terbuka.

“Saya tidak takut mesin menulis untuk saya. Saya takut kami berhenti bertanya mengapa sebuah kalimat harus dituliskan.”

Pertanyaan itu, dari seorang redaktur senior, menggantung di ruangan seperti sisa hujan. Ia benar. Kekhawatiran nyata tentang AI di jurnalisme bukan tentang tulisan yang buruk — buruk itu bisa disunting. Ia tentang tulisan yang cukup baik untuk tidak lagi dipertanyakan.

Tiga catatan lapangan

Berikut yang kami temukan setelah enam bulan berbicara dengan redaksi-redaksi di Bandung, Yogyakarta, dan Makassar. Ketiganya berukuran kecil, sumberdayanya terbatas, dan justru karena itu paling terbuka bereksperimen.

Pertama, otomasi tugas repetitif — transkripsi, kliping, penyortiran arsip — memberi kembali waktu bagi peliputan mendalam. Kedua, model bahasa gagal ketika diminta memahami konteks lokal tanpa panduan. Ketiga, tanggung jawab akhir tetap manusia; ini bukan slogan, tetapi kebijakan tertulis.

Yang tidak boleh diserahkan

Ada hal-hal yang jurnalisme tidak boleh serahkan pada mesin: penilaian tentang kepentingan publik, hubungan dengan narasumber, keputusan untuk melindungi identitas seseorang. Ini bukan tentang mesin yang tidak mampu — sebagian mungkin mampu. Ini tentang tanggung jawab yang, ketika salah, harus bisa dibebankan pada seseorang yang bisa menyesal.

Kalimat terakhir laporan ini, seperti kalimat pertama, ditulis oleh manusia. Itu bukan kebetulan. Itu pilihan editorial.

Buletin Mingguan

Bacaan yang tenang, dikirim setiap Sabtu pagi.

Satu esai pilihan, tiga catatan lapangan, dan bacaan terpilih dari redaksi — seputar AI, jurnalisme, dan kepentingan publik.

Gratis. Berhenti kapan saja.